Daftar Blog Saya

Sabtu, 12 Maret 2016

Kisah Nyata Tempatkan Surga Bagi Anak Kecil Ini Tuhan

Siang itu Kute Lombok begitu ceria, pasir putih yang setia menanti demburan ombak begitu menyejukkan mata. Sejuta ke indahan melenakan jiwa, memberikan kesejukan dan kedamaian, setelah sepanjang malam sebelumnya waktu melelahkan raga dari ujung Barat Indonesia (Pulau Sumatera). Kebesaran tuhan mempertemukan aku, kamu, dia dan kita semua disiang itu, sebagai Keindahan di Indahnya Pulau Lombok. Demburan ombak menerpa pantai berpasir putih dan riuh dari keramaian acara peringatan Hari Pers Nasional (HPN), disiang itu menjadi saksi bisu. Kita bersama ditemukan dan alunan obak dari tengah lautan biru seakan mengikuti buaian obrolan yang membuat kita seperti teman yang sudah lama tak bersua. Ya, waktu dengan cepat mengakrabkan kita. Hingga kita bisa ria, dan keindahan alam pantai Kute Lombok menyambut kecerian kita. Predikat sahabat "KeIndahan di Indahnya Pulau Lombok" tak berlebihan kami sematkan kepada Whydhodho Swan. Gadis Mataram yang periang itu sudah menghanyutkan kami ditenangnya Pulau Lombok. Dara manis yang juga pejuang tanpa tanda jasa itu, sulit kami lukiskan dengan kata-kata atas keramahannya. Meski kami banyak penuntut dan sok turis, tapi tak terlihat amarah dan keluh dari wajahnya. Ia, sosok periang yang tegar "Mungkin Tegar Juga Menunggu Jodoh" dan setia menemani kemana keinginan kami. Tawa dan ceria diwajahnya membuat kami tak bisa mengucapkan apa-apa. Kata "Terima kasih" terlalu rendah nilainya. Tapi kami tak tau pula dengan apa harus berterimakasih. Sekali lagi kami sangat senang Whydhodho atas persahabatannya.Telah menemani kami, semoga tuhan membalas itu semua. Semoga kita semua bisa bertemu lagi. Selamat tinggal Pulau Lombok. Namun ke esokan harinya kita mencoba menyebrang di pelabuhan lembar menuju bali, namun ketika senang canda sampai ke pelabuhan, di waktu sampainya di ruang tunggu pelabuhan sore itu saya melihat anak kecil sekitar umur empat tahun di ruang tunggu sedang berlari - lari dan main dengan sendiri berputar di kusi ruangan tunggu dengan pakayan yang begitu lusuh. Namun ketika itu saya tarok tas dan barang saya di kursi, ketika melihat anak itu berlarian sekeliling saya, saya bertanya dalam hati dan ber anggapan lain “mau ngapai anak ini keliling –-liling di dekat tas saya,saya pun terus berperasangka buruk tentang anak itu”. seketika itu saya melihat sesosok orang tua yang menghampiri anak tersebut sambil mengajak anak tersebut makan ke luatr tempat ruangan tunggu, hati saya lansung tak karuan apakah orang tua ini adalah bos –bos pencopet seperti yang saya tonton di pilem – pilem. Tak selang beberapa lama anak tersebut kembali ke ruang tunggu bersama orang tua renta tersebut, seketika sampai di ruang tunggu orang tua tersebut mencium kening dan sekujur tubuh anak itu dan merangkul sambil mengeluarkan air mata “ya, saya semakin aneh melihat kejadian itu”. Beberapa waktu berlalu kemesraan seperti bapak dan anak nampaknya sudah cukup, dengan sigap orang tua tersebut lansung membaringkan anak tersebut di ruang tungggu kapal, sambil menidurkan anak tersebut. “ya saya lihat anak itu tidak mau tidur, hanya terlihat wajah kecewa dan sedih yang nampaknya keluar dari wajahnya, namun anak itu mencoba tegar” Selang beberapa waktu bapak itu lansung pergi menuju kekapal, menindak rasa penasaran di dalam hati saya mendekat anak tersebut sambil sambil bertanya. Saya : itu siapa...? Anak kecil : bapak saya. Saya : mau kemana..? Anak kecil : mau kekapal. Saya : serius itu bapak adek, kok adek di tinggal. Anak kecil : ya, gak papa “dengan wajah tegar”. Saya : kok kamu gak ikut sama bapakmu ke kapal...? Anak kecil : gak di bolehin sama bapak, saya di suruh tidur di kursi ini saja. Saya : knapa gak bole dek, itukan bapak kamu...? Anak kecil : ya , kalo saya ikut di marahin. Jujurnya. Saya : terus bapak kamu hanya pergi sebentar atau lama pulangnya tu..? Anak kecil : lama biasanya, paling cepat dua hari. Saya : terus kamu tidur di sini sendirian...? ” sambil saya penasaran”. Anak kecil : ya saya tidur di sini. Saya : terus bapak kamu mau ke mana tu..? Anak kecil : mau jualan parpum di dalam kapal. Saya : terus ibuk kamu kemana..? “ sambil rasa hati tergetuk dan tak sadar air mata menetes di pipi saya” Anak kecil : ibu saya sudah lama tidak pulang – pulang, katanya mau kerja di bali tapi sudah lama dak pulang dan dak pernah ketemu lagi. Saya : terus kamu memang tidur di sini “ sambil di dalam hati mengucapkan Allah Huakbar, begitu tak adilnya ini dunia ini” Anak kecil : ya, saya tidur di sini. Saya : terus kamu makan dari mana...? Anak kecil : ada orang kerja di sini kadang kalo mereka makan saya di kasih, terkadang tidak, terkadang ada penumpang kapal memberi saya makan. Saya : nau roti “ saya, tawarkan roti yang kebetulan ada dalam tas saya” Anak kecil : tidak mau “ sambil iya menolak” Saya : ambil “ sambil saya ucapkan jangan malu” Anak kecil : saya sudah makan. Sambil memberikan itu akhirnya anak kecil tersebutpun tertidur, dan segera saya tarok di atas kursi temptnya tidur, dengan niatan saat dia terbangun moga iya memakan roti yang saya titipkan. Dan waktu keberangkatan kapal yang saya tumpangi sudah mau pergi dan sewaktu itu lansung saya tinggalkan anak tersebut menuju ke kapal. Saat saya berada di atas kapal saya lansung menyewa kamar tidur yang harganya 50 ribu, namun mata tidak bisa tidur saat pedagang beramai – ramai menjajakkan barang dagangan mereka ke dekat tempat tidur saya. “mie rebus... kopi – kopi... berbagai macam” terus saya mendengar ada sura yang menjual parpum.”parpum – parpum,”. Terus saya coba buka mata, dan saya lihat itu adalah bapak tua yang tadi saya ketemu di ruang tunggu saat meninggalkan anaknya “dan saya ajak teman saya untuk membeli parpum , karna hanya itu yang mampu saya berikan untuk bapak itu,” dan akhirnya saya sampai ke bali,’ dan kota lombok yang indah sangat banyak memberikan ke indahan dan juga pembelajaran bagi diri saya. “ saya hanya bisa belajar” anak kecil saja mampu bertahan dengan dengan segala kekurangan apa lagi diri saya yang sudah jauh dari kata dewasa dan juga bisa bepikir lebih positif”. ( ALI AMIN)

Tidak ada komentar: